Luka di Antara Glodok dan Asemka Di antara Glodok dan Asemka terkulai lemas langkah-langkah pegulat ibukota Mengenang hari-hari penuh kem...
Bertahan dalam Permainan
Hari ini kau melihat lampu-lampu kota yang kau singgahi runtuh
kau berjalan menjauhi keramaian, meninggalkan perputaran
kau pergi-kembali pulang,
kau kalah-menang,
kau membangun-meruntuhkan sayatan di kota orang
dan begitulah caranya kau tetap bertahan dalam permainan
Bertahan dalam Permainan Hari ini kau melihat lampu-lampu kota yang kau singgahi runtuh kau berjalan menjauhi keramaian, meninggalkan per...
Kau yang Membanggakan Penderitaan
Jika lampu di rumahmu
lebih lama padam
daripada rumah tetangga,
apakah kau bangga menceritakannya?
Saat kau hitung rendahnya biaya listrik
dari rumah yang gelap,
apakah itu prestasi?
Ingatlah,
orang yang tak pernah punya televisi
sudah lama makan ditemani lilin,
dan mereka yang baru kehilangan cahaya
masih belajar menahan perih
hidup tanpa lampu.
Kau yang Membanggakan Penderitaan Jika lampu di rumahmu lebih lama padam daripada rumah tetangga, apakah kau bangga menceritakannya? ...
Bukankah Lebih Baik Menjadi Nyamuk?
Di antara malam yang gelap,
digelapkan lagi oleh bayang tubuh,
mereka beterbangan, mencari lahan
hanya untuk bertahan hidup.
Tak ingin kaya, tak ingin mapan,
hanya ingin makan.
Baru saja ia menggali sumur,
petir menyambar,
membunuhnya.
Begitulah riwayat nyamuk
yang sekadar berusaha hidup.
Lalu bagaimana dengan manusia?
Adakah pekerjaan yang lebih berbahaya
daripada menjadi nyamuk?
Rasanya tidak ada.
Maka, apa yang perlu ditakuti
dari menjadi manusia?
Nyamuk terlambat sedikit—
maut menantinya.
Manusia tidak lebih berisiko,
namun entah mengapa lebih menyakitkan.
Bukankah mati kelaparan
berarti telah sekarat sejak lama?
Pilihlah:
menjadi nyamuk,
menjadi manusia,
atau tidak menjadi apa-apa.
Bukankah tidak menjadi apa-apa
berarti tidak akan mengapa-ngapa?
Bukankah Lebih Baik Menjadi Nyamuk? Di antara malam yang gelap, digelapkan lagi oleh bayang tubuh, mereka beterbangan, mencari lahan h...
Matahari yang Terbit Di Saat Gerhana
Ya, rumput tetap tumbuh.
Hewan-hewan pun bereproduksi.
Namun bukankah itu garis batas minimum—
sekadar bukti bumi belum mati?
Matahari terbit di tengah gerhana
menyimpan pesan tersembunyi:
sejatinya, malam tak pernah menyerah
meski siang bersinar gagah.
Dan mereka yang lumpuh—
haruskah mereka bersyukur
hanya karena napas
masih keluar masuk paru-paru?
Bukankah hidup terasa pedih
bila untuk makan pun
harus merepotkan tangan orang lain?
Matahari terbit di tengah gerhana
masih menyimpan malam.
Kau berkata:
“Sebelumnya terang,
setelahnya pun terang.
Bukankah tak apa
jika gelap sebentar?”
Namun gelap tetaplah gelap,
malam tetaplah malam,
dan sakit tetaplah sakit.
Jika kau terus mengangkat
pedang bermata dua bernama syukur,
mungkin kau belum melihat
bahwa matahari tertutup bulan—
atau barangkali kau sendiri yang menutup mata,
mengucapkan syukur
sebagai sisa kebaikan
atas kemunafikan.
Matahari yang Terbit Di Saat Gerhana Ya, rumput tetap tumbuh. Hewan-hewan pun bereproduksi. Namun bukankah itu garis batas minimum— se...
Berdiri di Antara Perasaan dan Penderitaan
Aku mencintai pohon hingga ke daun-daunnya,
menyentuh batangnya, menebak luka-luka yang lama ia simpan.
Aku memerhatikanmu seperti aku memerhatikan pohon itu:
memilih mencintaimu meski tahu derita yang menanti,
memilih menjadi angin yang menyentuhmu
tanpa pernah kau sadari.
Jika kau bermekaran, kubawa serbuk sarimu ke tempat terindah.
Jika kau berguguran, kusambut daun-daunmu pertama kali.
Jika kau mengering, kuhadirkan hujan.
Jika kau membusuk, kutopang sisa-sisamu.
Dan bila kau berkata ini bukan cinta,
aku tidak peduli.
Biarlah kepedulian ini menjadi tak berarti, apabila nanti salamku kau sambut dengan perasaan yang sudah mati.
Berdiri di Antara Perasaan dan Penderitaan Aku mencintai pohon hingga ke daun-daunnya, menyentuh batangnya, menebak luka-luka yang lama ...
Kelak, Kau pun Akan Membuat Seseorang Menderita
Hari ini kau melihat orang menebang pohon,
peternak menjual sapi,
nelayan memisahkan ikan dari telur-telurnya.
Mereka kau anggap pembawa bencana,
penebar duka.
Kau berkata lantang,
bahwa dirimu tak sama dengan mereka.
Namun ketahuilah,
kelak kau pun akan membuat seseorang menderita.
Kelak, Kau pun Akan Membuat Seseorang Menderita Hari ini kau melihat orang menebang pohon, peternak menjual sapi, nelayan memisahkan ikan ...




