Bait Lima: Rasa Sakit yang Datang Berulang-Ulang Aku berbincang di Kamis malam di bawah ingatan yang tak pernah padam. Tentang jiwa-ji...
Bait Empat: Pesta Air Mata
Harmonisasi air mata memoles setiap penampilan,
membangunkan nisan-nisan
dari mimpi panjangnya.
Dan dia—yang telah dinantikan
ribuan tahun lamanya—datang,
mencium keningku dengan lembut.
Kami berlari
menuju danau di tepi buku,
menatap kesedihan
yang setia menyapa
di setiap bangun pagi.
Pelikan-pelikan itu
memakan ikannya,
meminum airnya,
sementara kau mengajakku
menyelami keindahan
helai-helai rambutmu.
Untuk yang kukasihi,
untuk yang kutangisi—
apakah perpisahan hari ini
berarti pertemuan besok pagi?
Aku berharap demikian.
Bait Empat: Pesta Air Mata Harmonisasi air mata memoles setiap penampilan, membangunkan nisan-nisan dari mimpi panjangnya. Dan dia—yang...
Bait Tiga: Entah Siapa yang Mengisi
"Kau tahu apa arti bait-bait omong kosong itu?"
Mereka adalah sumpah serapahku
atas ketidakberdayaan kita—
kerinduan yang mengendap, lalu menggumpal,
menciptakan ledakan dalam sekat sempit
pembicaraan hari ini.
Kau meragukan logikaku:
logika yang menjembatani kemarin, hari ini, dan esok.
Kecuali jika sore nanti kau ucapkan selamat malam,
atau besok pagi kau akui
kehadiran yang menangkap lambai-lambai rayuan itu.
Aku tak tahu apa yang memberi nyawa
pada tiap kata ini—
aku hanya peduli jika wewangianmu
yang menarikku membuka hari ini.
Aku tak pernah benar-benar hidup,
tapi tidak dengan tulisan ini.
Bait Tiga: Entah Siapa yang Mengisi "Kau tahu apa arti bait-bait omong kosong itu?" Mereka adalah sumpah serapahku atas ketid...
Tuhan Minta Tepuk Tangan
Manusia bangun, bekerja, tidur, lalu mati.
“Mungkin sesekali beribadah, demi makan esok hari,” katanya.
Mereka yang baik menjadi munafik,
mereka yang laik justru tersisih,
sebab pentas drama ini penuh kepalsuan.
Tepuk tangan yang meriah,
untuk kontestan bernama Tuhan—
sutradara terbaik sepanjang masa, tak pernah kehabisan biaya.
Surga, surga, surga,
menanti para pelayan yang tetap tabah
di tengah limpahan neraka dunia yang dihadiahkan-Nya.
Tuhan minta tepuk tangan,
atas pentas drama yang penuh pertanyaan.
Tuhan Minta Tepuk Tangan Manusia bangun, bekerja, tidur, lalu mati. “Mungkin sesekali beribadah, demi makan esok hari,” katanya. Mereka ...
Tak Pernah Ditemukan
Setangkai bunga turun dari surga,
mencari-cari cinta pada tanah tandus yang tiada berdaya.
Ia berjalan, membawa serta kebahagiaannya,
menyentuh setiap sungai, lembah, dan dahan-dahan pepohonan.
Namun, setangkai bunga itu masih mencari-cari cinta.
Sehari, sebulan, setahun, hingga puluhan tahun berlalu.
Katanya, jatuh cinta pada embun pagi akan membuat mahkotanya bermekaran,
menyebarkan wangi, menjadi kebahagiaan—juga bagi siapa pun yang menyentuhnya.
Tapi ia tak juga menemukannya, atau mungkin tak juga menyadarinya.
Ia terus mencari.
Hingga akhirnya, ia tak mengerti
mengapa surga memanggilnya kembali.
Nyatanya, dunia terlalu sebentar untuk mencari cinta yang abadi.
Tak Pernah Ditemukan Setangkai bunga turun dari surga, mencari-cari cinta pada tanah tandus yang tiada berdaya. Ia berjalan, membawa ser...


