Bait Satu: Bunga Hutan Cinta didapatkan dalam sebuah pencarian. Tak ada yang terlalu panjang, tak ada yang terlalu pendek, dan tak ada ya...
Empat Hari yang Membunuh
Korek gas menyeringai,
menyulut papir di dalam jiwa yang keras.
Memicu hadirnya kuasa
pada hati yang berisik, penuh tanya.
Memaksa kepala
sibuk menampung jutaan kenyataan
yang menjelma jadi kejutan-kejutan,
meruntuhkan ego
yang selama ini setia pada dedikasi—
dedikasi untuk menolak
entitas bernama perasaan.
Aku dan logika berteman dengan keras,
bersama-sama memprotes kehadiranmu
dan untaian rasa
yang perlahan tumbuh secara organik.
Aku menyerah.
Logikaku runtuh.
Kami gagal mempertahankan idealisme ini.
Sebab, aku menemukan kekalahanku,
ada di kamu.
Kuharap kita bisa saling mengerti,
saling menghargai, saling melindungi,
dan berani untuk saling memiliki.
Empat Hari yang Membunuh Korek gas menyeringai, menyulut papir di dalam jiwa yang keras. Memicu hadirnya kuasa pada hati yang berisik, ...
Kamu Bukan Lagi Milik Tuhan Kita
Jiwa ini berjalan dalam putih abu-abu,
meminta Tuhan mundur dari jabatannya.
Bukan karena Ia tak layak,
aku yang tak sudi.
Musababnya,
tubuhku lebih mencintai pelukmu:
peluk yang menjadi rumah
bagi gelandangan sepertiku.
Tidurku abadi dalam damai pangkuanmu
pangkuan yang kini menjadi milikku,
bukan lagi milik Tuhan kita.
Lakuku adalah putih-
akulah tinta putih
yang mengisi takdirmu,
untuk kutemani selamanya.
Dirimu adalah abu-abu:
kau bukan lagi kepunyaan-Nya.
Kau milikku seorang.
Kamu Bukan Lagi Milik Tuhan Kita Jiwa ini berjalan dalam putih abu-abu, meminta Tuhan mundur dari jabatannya. Bukan karena Ia tak layak,...