Untukmu Oh Tuhan Ya Tuhan, Kami belum memohon surga-Mu hari ini, Belum pula ingin tergesa-gesa menuju ke sana. Yang kami butuhkan ...
Sepertinya Tuhan Suka Makan Pizza
akal mana yang tak teriris
jika di dalam satu lingkaran pizza
terbagi lima, namun dengan ukuran yang berbeda
di suatu tempat, ada seseorang yang tumbuh uang di setiap detak jantungnya
mereka adalah orang yang tidak ragu untuk membeli berkotak-kotak pizza
untuk memuaskan hasrat di matanya
di tempat yang berbeda, ada seseorang yang hanya ingin tumbuh rasa kenyang di perutnya
mereka adalah orang yang ragu, bahkan untuk membeli sepotong pizza
hasrat di matanya telah mati,
dipangkas ketidakberdayaan
si pencari kepuasan hasrat mencoba merekam pizza
bukan tanpa alasan, hanya sekadar memberitahu bahwa saus truffle sudah tersedia secara komersil
tanpa mereka sadari, mereka telah memancing kebencian
kepada pengemis yang kelaparan
pernyataan ini bukan tentang salah siapa
tapi tentang ketimpangan yang dijelaskan seterang-terangnya
sepele, dan barangkali juga disepelekan oleh konglomerat perusahaan pizza
tapi tidak bagi beberapa orang-atau kah mereka tidak dapat lagi di sebut sebagai orang?
karena takdir tak mengizinkannya untuk mencicipi pizza, walau hanya sesuap saja
jika memang aku pencipta pizza
akan ku hancurkan seluruh tungku pembakaran pizza setelah pizza pertama tuntas disiapkan
itu pun kalau aku tahu, bahwa di masa depan, pizza menjadi makanan penentu kelas sosial
kalaupun si maha tahu juga tahu,
ia tidak akan membiarkan dapur seseorang pun menuntaskan pizza pertamanya.
Sepertinya Tuhan Suka Makan Pizza akal mana yang tak teriris jika di dalam satu lingkaran pizza terbagi lima, namun dengan ukuran yang ber...
Menziarahi Kawah Burung
Sejauh ziarahku menjajaki lembah Kawah Burung,
kusyairkan mantera-mantera kebencian
dengan lidah yang getir—tentang kau,
yang memikatku pada ilusi bernama kepemilikan.
Bukan karena aku abai mengenangmu,
tapi karena kau menoreh luka purba
dengan ketaksudianmu yang hening dan membatu.
Luka itu memaksaku menapak sunyi
menyulam ranting-ranting tajam, pasir bisu, tanah lengas, dan abu tak bernama.
Tidakkah kau iba melihat napasku yang tercabik?
Aku khilaf menjadikanmu penjagal imanku,
aku pendusta—menyulam wajah ramah
di hadapanmu yang tak pernah melihat mataku retak.
Sejauh pelarianku ke kawah sepi itu,
kutenteng kitab kesendirian berpeluh nestapa,
menguatkan langkah-langkah yang rebah
dan meninggalkan jejak darah di antara kerikil takdir
Di kawah itu,
kutanam harap yang sekarat,
kutanggalkan namamu
seperti debu yang ingin dilupakan angin.
Namun—
sedalam-dalamnya kawah itu
burung tetap bisa terbang,
dan kau kembali, menjelma luka yang diselubung dusta.
Kau tetap kuimani,
sebagai serpih luka yang kutata ulang
untuk tampak baik-baik saja
di hari-hari berikutnya.
Menziarahi Kawah Burung Sejauh ziarahku menjajaki lembah Kawah Burung, kusyairkan mantera-mantera kebencian dengan lidah yang getir—tent...
