Menziarahi Kawah Burung
Juni 06, 2025Menziarahi Kawah Burung
Sejauh ziarahku menjajaki lembah Kawah Burung,
kusyairkan mantera-mantera kebencian
dengan lidah yang getir—tentang kau,
yang memikatku pada ilusi bernama kepemilikan.
Bukan karena aku abai mengenangmu,
tapi karena kau menoreh luka purba
dengan ketaksudianmu yang hening dan membatu.
Luka itu memaksaku menapak sunyi
menyulam ranting-ranting tajam, pasir bisu, tanah lengas, dan abu tak bernama.
Tidakkah kau iba melihat napasku yang tercabik?
Aku khilaf menjadikanmu penjagal imanku,
aku pendusta—menyulam wajah ramah
di hadapanmu yang tak pernah melihat mataku retak.
Sejauh pelarianku ke kawah sepi itu,
kutenteng kitab kesendirian berpeluh nestapa,
menguatkan langkah-langkah yang rebah
dan meninggalkan jejak darah di antara kerikil takdir
Di kawah itu,
kutanam harap yang sekarat,
kutanggalkan namamu
seperti debu yang ingin dilupakan angin.
Namun—
sedalam-dalamnya kawah itu
burung tetap bisa terbang,
dan kau kembali, menjelma luka yang diselubung dusta.
Kau tetap kuimani,
sebagai serpih luka yang kutata ulang
untuk tampak baik-baik saja
di hari-hari berikutnya.
0 Comments