Jangan Lekas dari Ingatan-Ingatan Itu Setiap pasang adalah kanan dan kiri, yang tak lengkap saat kehilangan sementara. Kehilangan pasan...
Berisik Saat Terusik
Berangkat dari ramai dan riuh,
di tengah doa, berbisik berisik.
Jalan itu di mana?
Kucari, berlari,
walau menabur marah, tanpa kasih.
Diam, menyepi,
tak lama runtuh,
di ujung terima kasih, bersedih.
Jalan itu siapa?
Kupanggil, pergi.
Aku tidak mengerti, tak tahu arti.
Berisik, berisik,
menggaduh penuh dalam riuh.
Terusik, terusik,
kata-kata itu rapuh.
Dan aku,
tubuhku,
sesak.
Berisik Saat Terusik Berangkat dari ramai dan riuh, di tengah doa, berbisik berisik. Jalan itu di mana? Kucari, berlari, walau menabu...
Kelas yang Kosong, di Atap Riuh yang Penuh
Pintu-pintu terbuka,
menyambut satu-dua kabar hari ini.
Baik atau buruk, mereka tak peduli.
Mereka terbiasa untuk diselami.
Ketabuan mengubah kebisuan
menjadi kebisingan yang tak mampu tertuangkan.
Rindu—
rindu pada bunyi engsel pintu,
rindu pada derap langkah kakimu dan kakiku.
Sepi hilir angin
lebih berisik daripada pagi hari itu.
Kau yang dingin di mata
merangsak masuk ke tubuh kikukku.
Sampai di mana perjalanan kita kemarin?
Ke mana perjalanan ini kau tuju?
Kelas yang kosong tak menjawab,
atap yang riuh tertawa gaduh.
Tanpa kekosongan, seseorang tak dapat memulai sesuatu.
Tanpa rindu, seseorang tak dapat mengakhiri kebencian yang palsu.
Kelas yang Kosong, di Atap Riuh yang Penuh Pintu-pintu terbuka, menyambut satu-dua kabar hari ini. Baik atau buruk, mereka tak peduli. ...
Pertunjukan Romantis di Tanah Surga
Api-api itu, lilin-lilin itu,
membarai, menggubah, melenyapkan dinding dan layar.
Berkobar dalam semampai, membungkus tanah merah,
membangun sebuah tubuh —
tanah yang berisak, darah yang mengisi kekosongan cerita.
Kalau hari ini ada pertunjukan orkestra,
akan kurusak seluruh tempat duduknya.
Takkan kubiarkan orang lain masuk dan menonton
drama awang-awang berjudul "Kita."
Mari, berbicaralah di samping liangku.
Bersama, kita bercerita tentang rencana kita
ratusan ribu tahun ke depan.
Biarkan kau merasakannya, mengakuinya.
Kembalilah pada tubuh cerita ini, Hawa.
Pertunjukan hari ini tidak akan pernah selesai.
Pasangan dalam keilahian adalah pemeran dalam keabadian.
Pertunjukan Romantis di Tanah Surga Api-api itu, lilin-lilin itu, membarai, menggubah, melenyapkan dinding dan layar. Berkobar dalam sem...
Cinta Tidak Menyembuhkan Luka, Cinta Menyembunyikan Pisaunya
Satu malam, di mana seorang pria meniti kain lusuh,
menikam lubang demi lubang, luka demi luka.
Di ujung benang, tertinggal tetes darah — merebah.
Satu malam, di mana seorang ksatria berjumpa dengan mati dalam lelah,
menyembunyikan cinta demi cinta di ujung pisau
yang kerap menyayat matanya.
Di ujung kenang, tertinggal harapan yang berpisah,
melangkah semakin jauh.
Dan kau,
tak pernah kuanggap pelakunya.
Cinta Tidak Menyembuhkan Luka, Cinta Menyembunyikan Pisaunya Satu malam, di mana seorang pria meniti kain lusuh, menikam lubang demi luba...
Tuhan, Apakah Kau Kelelahan?
Malam ini berbicara tentang perkara-perkara di waktu silam —
perkara peristiwa kelam, hingga pencarian tulang oleh kaum Adam.
Malam ini mendengarkan mereka yang kelaparan,
juga tentang ketidakbiaran petani melumbungkan padi
dari sawah yang penuh penyesalan.
Di ujung sana, kau melihat tumpukan cahaya yang silau,
serta bahumu yang berat, dipikul oleh keperihan tak berkematian.
Kau berkhayal:
Akankah aku bangga besok, walau tanpanya?
Ataukah hidup ini akan terus berjalan memutar,
seperti gondola di taman hiburan?
Tuhan sedang bekerja, mencatat perkara-perkara pengadilan.
Dan aku, aku memberitahu-Nya:
Aku mencintainya.
Semoga dipermudah, wahai si pemilik lelah.
Semoga dipermudah, wahai si penghilang lelah.
Tuhan, Apakah Kau Kelelahan? Malam ini berbicara tentang perkara-perkara di waktu silam — perkara peristiwa kelam, hingga pencarian tula...


