Sudahkah Kalian Mengaku Beriman Hari Ini? Sesak itu tak ditemukan di palung terdalam, pun tidak di hampa angkasa yang asing; ia lah...
Mobil Buruk yang Kau Gunakan untuk Melahap Hidup
Di antara jalan-jalan panjang menuju kematian
lampu-lampu jalan beriman kepada kegelapan
juga dengan debu-debu di jalan gelap yang hanya sedikit tersentuh cahaya lampu
Saat nasib memaksamu untuk menelan gumpalan aspal yang kau lalui sendiri
Apakah takdir akan memberikan kesempatan untuk membuat setiap pengendaranya mengucap syukur?
Lantas bagaimana dengan cahaya lampu yang tak benar-benar sampai ke permukaan jalan
dan membuatmu terjatuh ke dalam bahaya kematian?
tapi ini bukan tentang bagaimana mobilmu dapat sampai dengan selamat walau berjalan di atas aspal yang rusak dan minim pencahayaan
ini tentang bagaimana sikapmu dalam menyikapi debu-debu jalan dan gumpalan aspal sebagai bagian dari nasib atas takdir mobil burukmu yang sudah hancur sebelum kau benar-benar dimatikan.
Mobil Buruk yang Kau Gunakan untuk Melahap Hidup Di antara jalan-jalan panjang menuju kematian lampu-lampu jalan beriman kepada kegelapa...
Akulah yang Pertama Sadar, Aku Tidak Pernah Memiliki Apapun
Aku menyukai makanan mewah,
minuman mahal,
dan tempat-tempat indah—namun aku tidak mencintainya.
Aku lebih mencintai yang tak tergapai.
Jika kau bertanya apa yang kucintai:
hal-hal indah
yang menjadi sia-sia
bila dimiliki seorang diri.
Aku mencintai masa lalu sebelum aku dilahirkan.
Aku mencintai hidup di negeri yang bukan rumahku.
Aku mencintai bintang yang pertama bersinar jutaan kilometer di atas sana.
Dan bila kau bertanya
apakah aku mampu mencintai sesuatu yang dapat kumiliki,
jawabannya: tidak.
Sebab yang bisa disukai selalu mudah digapai—oleh siapa pun.
Pada akhirnya, aku mencintai yang tak bertuan,
yang tampaknya takkan pernah bisa dimiliki.
Karena sejak awal aku telah sadar:
aku tidak pernah memiliki apa pun.
Dan jika kau mencari seseorang yang mencintai sesuatu yang indah tapi tak "berharga"
maka akulah orangnya.
Akulah yang Pertama Sadar, Aku Tidak Pernah Memiliki Apapun Aku menyukai makanan mewah, minuman mahal, dan tempat-tempat indah—namun aku t...
Kayu yang Dibakar untuk Merebus Batu
Di antara akar dan daun,
terdapat sebuah sekat:
memisahkan kekasih dari pasangannya,
memisahkan anak dari orang tuanya,
memisahkan rakyat dari rajanya,
memisahkan hamba dari Tuhannya.
Dan di antara mereka,
ada yang memesan batang, dahan, atau ranting—
tapi yang datang selalu saja batu.
Sebuah daun gugur,
jatuh ke tanah, semakin dekat dengan akar;
atau akar yang tumbuh ke atas,
berusaha meraih daun-daun yang tinggi—
namun rasa sakit tetap tak menemukan keduanya.
Akar dan daun tidak pernah bertemu,
tidak juga pernah bertengkar.
Barangkali pertemuan
adalah permintaan atas penderitaan yang abadi?
Barangkali salah daun yang memilih mati,
barangkali salah akar yang ingin meninggi.
Maka sebaiknya,
mereka membakar kayu
untuk merebus batu,
menghabiskan sisa waktu
yang diberikan kepada mereka.
Kayu yang Dibakar untuk Merebus Batu Di antara akar dan daun, terdapat sebuah sekat: memisahkan kekasih dari pasangannya, memisahkan ...
Mataku yang Hina
Jujur saja,
Aku tidak melihat Tuhan yang maha kaya,
tapi aku melihat banyak orang kelaparan sedang melawan kemiskinan.
Mataku yang Hina Jujur saja, Aku tidak melihat Tuhan yang maha kaya, tapi aku melihat banyak orang kelaparan sedang melawan kemiskinan.
Bolehkah Aku Menyakitimu?
Jika dirimu tidak pernah mengenal badai
apakah aku boleh menjadi hujan hanya untuk meletakkan air di matamu?
Bolehkah Aku Menyakitimu? Jika dirimu tidak pernah mengenal badai apakah aku boleh menjadi hujan hanya untuk meletakkan air di matamu?
Retorika Senja
Mengapa banyak novel menyinggung senja?
Mengapa banyak lagu menceritakan senja?
Mengapa banyak film berlatar senja?
Mengapa banyak orang mencintai senja?
Bagaimana dengan fajar?
Ya. Saat senja, semua penulis telah bangun.
Ya. Saat senja, semua studio telah penuh.
Ya. Saat senja, semua kamera menangkapnya.
Ya. Saat senja, semua yang bekerja sadar akan waktu pulang.
Ya. Saat fajar, semua penulis masih terlelap.
Ya. Saat fajar, semua studio masih gelap.
Ya. Saat fajar, semua kamera belum menyala.
Ya. Saat fajar, semua yang bekerja baru belajar menunggu.
Sedangkan dengan fajar?
Ia adalah hari yang panjang,
sebelum semua sadar
bahwa akhirnya,
mereka akan berpulang.
Retorika Senja Mengapa banyak novel menyinggung senja? Mengapa banyak lagu menceritakan senja? Mengapa banyak film berlatar senja? Menga...






