Bumi Ideologi
Oktober 25, 2022Bumi Ideologi
Apa yang biasanya dilakukan kebanyakan orang setiap pagi? Menyeduh kopi? Membeli sarapan? Berdansa ceria menuju kamar mandi? Atau kembali mengeluh, berharap bisa tidur lagi?
Menurutku, kembali mengeluh akan keinginan untuk tidur lagi adalah kehendak yang telah ditetapkan oleh para penghuni bumi, terutama di kota-kota besar. Kami percaya, dengan mengeluh, semuanya akan menjadi baik-baik saja setelahnya.
Lantas, kenapa Tuhan masih memberikan kita pagi?
Padahal, malam tadi telah terjadi pertengkaran hebat antara kita dan Tuhan kita masing-masing. Tak jarang, permintaan untuk mati pun terasa seperti sebuah solusi.
Tak hanya itu, kita sering kembali merengek, menuntut wujud nyata dari kenyataan. Entahlah, mungkin Tuhan seharusnya bisa datang menjelma menjadi seonggok tongkat baseball dan melayangkan dirinya ke wajahmu — memberikan penghukuman secara langsung.
"Aku ini ada untuk apa?"
Pertanyaan itu selalu bergantung di langit-langit kamarku. Lalu, pertanyaan-pertanyaan lain datang saling bersahutan, menendangku menuju pintu kamar mandi.
Saat aku memasuki ruang berair itu, pertanyaan-pertanyaan baru mulai bermunculan di atas kepalaku:
"Kamu sudah ngapain saja selama ini?"
"Kamu sudah sampai di mana dengan usahamu?"
"Sudah berapa banyak waktu, tenaga, uang, dan air mata yang telah engkau habiskan?"
Tapi, ambisiku yang ke-5.478.963 kembali berbisik:
"Lakukan saja, bisa saja hari ini adalah peruntunganmu."
Aku tahu, manusia membutuhkan itu. Ya, ambisi.
Tanpanya, mungkin aku sudah melakukan upaya bunuh diri yang ke-5.478.962 kalinya.
Begitulah manusia.
Aku percaya mereka menyembah ideologinya masing-masing.
Sementara itu, Tuhan mereka perlahan menjelma menjadi ideologi—karena mereka mengeluh, minta disembah.

0 Comments