Menyembah Pukul Tiga Pagi
September 28, 2022Menyembah Pukul Tiga Pagi
Pagi itu, di Desa Sukakerja, seorang anak aneh kembali terbangun dengan erangan kerasnya.
"Anjng! Bangst! Kepar*t!..."
Lolongan yang mengandung makna-makna ajaib itu kembali membuat seisi rumahnya gaduh. Ya, hal ini terus saja terjadi dan menimpa anak aneh bernama Tongseng. Ia kerap melolong setiap pukul tiga pagi. Kadang, ia melolong sambil menulis puisi, kadang juga sambil menyeduh kopi.
Tongseng memang sering dipanggil "anak setan" di kampungnya. Secara fisik, ia tampak masih belia, tetapi kerutan di atas alisnya tidak bisa berbohong. Konon, salah satu tetua di kampungnya pernah berkata kepada keluarga Tongseng saat ia masih bayi:
"Pak, Bu, ini nggak main-main, loh... dari tanda fisik serta aura yang dikeluarkan bayi ini, saya bisa mengatakan bahwa sebenarnya Tongseng adalah jelmaan dari salah satu raja yang bijak pada masa lalu."
"Hanya saja, mulutnya agak toxic," tambahnya.
Keanehan Tongseng tidak berhenti di situ. Sejak berusia enam bulan, Tongseng sudah sering mengatakan hal-hal di luar nalar, terutama kepada ibunya.
"Bu, manusia kok pada bodoh ya, Bu?"
"Mereka bangun jam lima pagi, terus ke sawah bawa-bawa cangkul. Memangnya ada agama yang sembahyangnya pakai cangkul ya, Bu?"
Saat berusia dua tahun, Tongseng juga melakukan hal yang tidak kalah aneh. Ia pergi sendiri ke balai desa. Pada saat itu, di balai desa sedang berlangsung musyawarah besar untuk evaluasi kampung yang rutin dilakukan setahun sekali. Sesampainya di sana, Tongseng langsung maju ke panggung utama yang terletak di tengah-tengah balai desa dan berteriak:
"Ih, goblok kalian semua! Musyawarah evaluasi kok tahunan, wong harian saja sudah ribuan masalah yang kalian buat!"
Banyak warga percaya bahwa tubuh Tongseng tidak mampu menahan jelmaan sosok raja yang bersemayam di dalam dirinya. Itulah mengapa Tongseng selalu saja melakukan hal-hal aneh dan di luar nalar. Namun, banyak juga warga yang sadar bahwa apa yang dilakukan dan dikatakan Tongseng ada benarnya.
Warga desa perlahan mulai terbiasa bangun pukul tiga pagi. Mereka menyeduh secangkir kopi sambil menulis puisi di teras rumah masing-masing. Bahkan, ada yang sampai berlari ke gunung-gunung demi mendapatkan kenikmatan yang lebih dalam waktu persembahan mereka. Di sisi lain, warga juga mulai rutin melakukan evaluasi harian di depan cermin sebelum berangkat ke sawah dan ladang. Akibatnya, balai desa menjadi tak terpakai, hingga akhirnya salah satu warga memutuskan untuk mengubah balai desa menjadi peternakan kerbau.
Sikap bijak sekaligus toxic yang dimiliki Tongseng membuatnya diangkat menjadi guru besar spiritual di lingkungannya. Tak berhenti di situ, ia pun mendirikan sebuah perguruan spiritual di desanya. Perlahan, paham Tongsengisme mulai menyebar ke seluruh penjuru desa, bahkan sampai ke dunia.
Namun, ketika dunia memasuki era metaverse, Tongsengisme perlahan terkubur eksistensinya. Meski begitu, paham itu tetap hidup — Tongsengisme terus menjelma dalam kebisuan yang kerap diabaikan oleh banyak umat manusia.
Depok, 28 September 2022
Ba’da Asar

0 Comments